doa dan imej

doa dan imej
                                                                                                                                                                      

Selasa, 10 Mei 2011

Hajar Aswad


Hajar Aswad adalah batu hitam yang  berada di sudut tenggara Ka’bah dilingkari besi putih yang direkat dengan timah terletak kira-kira setinggi satu setengah meter dari permukaan lantai masjid. Dari sudut inilah putaran thawaf dimulai dan diakhiri, dan kalau keadaan memungkinkan setiap mulai putaran, disunnahkan menciumnya atau mengusapnya dengan tangan kanan kemudian dikecupnya tangan tersebut. Mencium Hajar Aswad diluar waktu thawaf  juga disunnahkan dengan niat mengikuti petunjuk Nabi SAW semata.
Dalam salah satu riwayat Bukhori-Muslim, diterangkan bahwa Umar Ibn al khattab sebelum mencium Hajar Aswad mengatakan, “Demi Allah, aku tahu bahwa engkau adalah sebuah batu yang tidak dapat berbuat apa-apa, kalau aku tidak melihat Nabi Rasul Allah menciummu, aku tidak akan menciummu”. Jadi mencium Hajar Aswad ini bukanlah suatu kewajiban bagi umat Islam, tapi merupakan anjuran dan sunnah hukumnya, maka kalau tidak memungkinkan karena penuhnya orang berdesakan, sebaiknya urungkanlah niat untuk mencium atau mengusap batu itu dan gantilah dengan istilam dari kejauhan. Karena menyelamatkan diri sendiri dan jiwa orang lain kecelakaan tentu lebih utama.
Menurut salah satu riwayat, batu ini ketika diturunkn dari sorga berwarna putih mengkilap, namun karena kedurhakaan anak cucu Adam, batu ini makin hitam dan makin hitam. Sejarah batu ini sangat panjang sepanjang sejarah Ka’bah.
Di antara peristiwa penting yang mesti dijadikan ‘ibrah (suri Tauladan) bagi kaum muslimin adalah yang terjadi pada tahun 16 sebelum Hijrah, ketika suku Quraisy berselisih dan masing-masing mempertahankan pendapat tentang siapa yang yang berhak mengangkat dan meletakkan batu ini pada tempatnya setelah pemugaran Ka’bah itu selesai.
Selama lima hari lima malam mereka dalam situasi gawat, akhirnya muncullah usul dari Abu Umayyah bin Mughirah Al Makhzumy yang mengatakan “Alangkah baiknya kalau keputusan ini kita serahkan kepada orang yang pertama masuk mesjid pad hari ini”. Karena Abu Umayya orang tertua diantara orang Quraisy, maka pendapatnya disepakati. Dan ternyata orang yang pertama kali masuk pada hari itu adalah Muhammad bin Abdullah (35 Tahun) yang pada saat itu sudah begelar Al Amin (orang yang terpercaya) karena beliau tidak pernah berdusta dan tidak pernah ingkar janji, seluruh penduduk Mekkah mengakuinya. Maka mereka langsung minta kepada beliau untuk mengambil keputusan tentang pertikaian yang memanas itu. Kemudian Muhammad bin Abdullah menuju tempat penyimpanan batu itu lalu membentangkan sorbannya, kemudian meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengah sorbannya, kemudian meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengah sorbannya, lantas menyuruh seorang wakil dari masing-masing kabilah yang sedang bertengkar, kemudian keempat orang itulah yang mengangkat batu itu bersama-sama, lalu Muhammad lah yang memasang pada sudut Ka’bah dan semua pihak merasa puas, sehingga terhindarlah dari pertikaian adu senjata.
Kisah lain yang sangat penting adalah yang terjadi pada musim haji tahun 317 H. Pada saat itu dunia Islam dalam keadaan lemah dan bercerai-berai, sehingga kesempatan ini dimanfaatkan oleh Abu Tahir Al Qurmuthi seorang kepala suku Jazira Arab bagian timur untuk melampiaskan nafsu angkara murkanya, maka dengan keji ia bersama anak buahnya sebanyak 700 orang bersenjata perang mendobrak masjidil Al haram dan membongkar Ka’bah dan mengambil Hajar Aswad dengan paksa kemudian dibawa ke negaranya di kawasan Teluk Persia. Kemudian menantang umat Islam agar mengambil batu itu, boleh dengan perang atau dengan membayar sejumlah uang yang pada saat itu sangat berat bagi umat Islam. Setelah 22 tahun (tahun 339 H). Batu itu dikembalikan ke Makkah oleh Khalifah Abbasiyah Al Muthi Lillah setelah ditebus dengan uang sebanyak 30.000 dinar.
Ketika Abdullah bin Akim utusan Khalifah Al Muthi’ Lillah menerima batu dari pemimpin suku Qurmuth itu langsung dimasukkan kedalam air dan tenggelam, kemudian diangkat dan dibakar ternyata pecah, maka Ia menolak batu itu dan dinyatakan palsu. Dengan tenagn pemimpin suku Qurmuth itu member yang kedua yang sudah dilumur minyak wangi dan dibungkus dengan kain sutra yang sangat cantik, namun Abdullah tetap melakukan seperti pada yang pertama, dan ternyata hasilnya juga seperti yang pertama maka Ia meminta yang aslinya dan oleh pemimpin suku Qurmuth diberikan padanya batu yang ketiga. Tapi oleh Abdullah batu ini pun seperti semula. Sungguh aneh dan menakjubkan batu itu tidak tenggelam, dan ketika dibakar tidak panas. Maka Abdullah dengan puas mengatakan, “Nah inilah dia, batu kita”. Dengan terheran-heran pemimpin Qurmuth bertanya, “Dari mana anda mendapat ilmuitu?”. Abdullah menjawab, “Nabi SAW pernah mengatakan, Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah yang ada dibumi, pada hari kiamat nanti mempunyai mulut dan menyaksikan siapa-siapa yang pernah menyalaminya dengan niat baik atau tidak baik, tidak akan tenggelam didalam air dan tidak panas oleh api”
Dalam riwayat selanjutnyaditegaskan bahwa kepada pemimpin Qurmuth ini Allah menurunkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan sampai bertahun-tahun lamanya dan akhirnya semua persendiannya saling berlepasan, kemudian ia mati dalam keadaan yang sangat mengenaskan.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan